Menghidupkan Masa Lalu, Memaknai Masa Kini: Refleksi Kritis Pembelajaran Sejarah Sastra Indonesia

Mata kuliah sejarah Sastra Indonesia pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dirancang untuk memberikan pemahaman yang baik bagi mahasiswa tentang perjalanan kesusastran Indonesia, mulai dari dasar ilmu sastra, periodisasi, serta analisis setiap angkatan dan keunikannya.

Awalnya, saya berpikir mempelajari sejarah Sastra Indonesia hanyalah sebatas mengenali perubahan pola pikir bangsa dari karya sastra.

Namun ternyata lebih luas dari itu, pengalaman belajar selama satu semester ini memberikan saya pemahaman yang mendalam tentang sastra, mulai dari sejarah, identitas, hingga literasi bangsa.

Melalui pembelajaran berbasis studi kasus, pembelajaran selama kuliah mendorong saya untuk terus aktif, berdiskusi, mencari informasi dan materi berbasis IPTEK, presentasi hasil karya, hingga perpikir kritis menafsirkan setiap fenomena di masing-masing periode.

Pada awal kuliah, saya belajar tentang dasar-dasar sejarah sastra, saya mulai belajar tentang dasar-dasar ilmu sejarah sastra, membedakan teori, kritik, dan sejarah sastra.

Dalam pembelajaran ini, saya mengerti bahwa masing-masing aspek tersebut memiliki keterkaitan yang tak terpisahkan, yaitu teori menemukan konsep, kritik memberikan penilaian, dan sejarah memberikan konteks. Pemahaman dasar ini sangat bermanfaat dan memiliki keterkaitan yang sangat penting terutama dalam mempelajari periodisasi selanjutnya.

Dari dasar-dasar tersebut selanjutnya saya mempelajari konsep angkatan dan periodisasi, bahwa angkatan sastra bukanlah sebatas kumpulan tahun, tetapi gerakan perubahan, dan keindahan yang dibentuk oleh para tokoh berdasarkan konteks sosial dengan gagasan yang relevan.

Pada tahap ini, saya memahami pentingnya keaslian angkatan dalam periode perkembangan sastra. Selanjutnya, saya mempelajari tentang sastra lama, yang meliputi sastra klasik dan tradisi lisan.

Pada tahap ini, saya menganalisis hikayat, syair, dan gurindam yang mampu membuka pikiran tentang bagaimana melihat nilai moral, ajaran budi pekerti, maupun adat yang tersirat di dalam cerita-cerita klasik.

Baca juga  Perhutani Bondowoso Ikut Sertakan Anggota Saka Wanabakti Dalam Pelatihan Tingkat Jatim

Dengan memanfaatkan IPTEK, saya mengidentifikasi ciri-ciri seperti sifat anonim, formulaik, dan memiliki fungsi sosial. Aktivitas ini menguatkan pemahaman bahwa sastra lama adalah fondasi identitas literer nusantara.

Setelah saya memahami sastra lama, saya juga mempelajari lahirnya Sastra Indonesia Modern. Saya banyak belajar tentang pemicu sikap nasionalisme, lahirnya sumpah pemuda, dan lahirnya Bahasa Indonesia yang menjadi sejarah kunci lahirnya sastra modern.

Melalui penugasan dan analisis yang dibahas dalam pembelajaran ini, saya mengerti bagaimana Bahasa Indonesia yang dipilih dan dijadikan sebagai bahasa nasional serta menjadi tempat baru bagi karya sastra modern.

Pemahaman mengenai pembahasan angkatan Balai Pustaka dengan karya sastra yang berjudul “Siti Nurbaya”.

Saya melakukan analisis terhadap karya sastra “Siti Nurbaya” yang mendorong saya untuk dan ingin mempelajari lebih lanjut mengenai masa kolonialisme dan bagaimana masa tersebut dapat membentuk cara penulis mengekspresikan konflik tradisi dan modernitas.

Selain itu, saya juga mempelajari tentang Sastra Kontemporer. Saya diminta untuk mengidentifikasi perubahan yang ada pada tema sastra setelah tahun 1970-an, di mana kritik sosial yang semakin terbuka lebar, banyak eksperimen bermunculan, hingga munculnya karya sastra digital.

Periode inilah yang paling dekat dan relevan dengan kehidupan saya saat ini, sehingga saya melihat adanya keterkaitan antara periode ini dengan fenomena-fenomena yang ada seperti karya sastra di media sosial dan berbagai tulisan di platform digital.

Pembelajaran pertemuan berikutnya, memahami karya sastra angkatan Pujangga Baru. Karya sastra angkatan Pujangga Baru ini, mempelajari gerakan yang memperjuangkan dan mengutamakan modernitas dan nasionalisme estetika.

Beberapa tokoh terkenal dalam periode ini yaitu Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Amir Hamzah yang menghadirkan sastra yang lebih individualistik dan filosofis.

Di akhir pembelajaran, saya melakukan diskusi dan refleksi terkait materi yang membuat saya semakin paham bahwa karya sastra Indonesia bukan hanya berfungsi sebagai penghibur, tetapi juga membangun pengetahuan dan intelektual bangsa.

Baca juga  Ernst Utrecht Sang Intelektual Radikal dan Arsitek Hukum dari Kota Jember

Selanjutnya materi perkuliahan seputar zaman Jepang. Pada pembelajaran kali ini, saya menemukan bahwa bentuk karya sastra terbentuk melalui adanya sensor dan propaganda.

Tekanan-tekanan tersebut mendorong munculnya kreativitas untuk menulis karya sastra yang berisi pesan-pesan tersirat dari suatu tragedi.

Saya juga mempelajari tentang sejarah angkatan ’45. Hal yang paling saya ingat dari pertemuan kali ini adalah Chairil Anwar menjadi tokoh yang dinobatkan sebagai ikon perubahan mengenai pandangan dan gaya bahasa manusia, Integritas serta keberaniannya menjadi bukti bahwa karya sastra adalah ruang kebebasan.

Sebagai penutup materi akhir pada semester satu ini, saya mempelajari sejarah karya sastra di era angkatan 50-80 serta sastra digital.

Pada periode ini membuka pikiran dan pengetahuan saya tentang dinamika sosial politik yang mendalam, di mana saya banyak memperoleh pengetahuan baru berkaitan pada masa revolusi hingga masa orde baru.

Tidak hanya materi, saya juga melakukan poster walk dan diskusi kelompok untuk mengasah pengetahuan mendalam tentang karya sastra dan keunikan di setiap zamannya.

Perkuliahan berbasis studi kasus menuntut saya untuk mengulik berbagai peristiwa sejarah dari berbagai sumber, mengaitkannya dengan kasus nyata dan perkembangan IPTEK, serta melatih saya untuk menciptakan karya sastra yang menarik, dan kreatif.

Beberapa pemahaman yang saya temukan selama mengikuti mata kuliah ini diantaranya, periodisasi menjadi hal yang tidak selalu linear tetapi selalu berkaitan dengan sejarah dan perkembangan bangsa.

Setiap karya sastra selalu relevan dengan perkembangan Bangsa Indonesia dari zaman ke zaman, setiap periode dan angkatan yang ada muncul tidak secara kebetulan, melainkan berkaitan erat dengan keterampilan penulisan dan analisis sejarah.

Berdasarkan pengalaman yang telah saya pelajari, sejarah sastra memiliki keterkaitan erat dengan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Baca juga  Puluhan Siswa SMKN 2 Jember Antusias Ikuti Diklat PMR dan KKR

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dapat membantu memahami karya secara lebih kontekstual sesuai dengan perkembangan zamannya, meningkatkan literasi kritis siswa sehingga siswa dapat membandingkan gaya dan pesan setiap angkatan, membentuk dan meningkatkan karakter siswa, karena karya sastra banyak mengandung nilai moral, perjuangan, dan refleksi sosial, mampu mengembangkan kemampuan dan apresiasi sastra sehingga siswa dapat mempelajari karya klasik maupun karya di era digital.

Sebagai calon pendidik, saya merasa sangat penting untuk mengajarkan karya sastra dalam pembelajaran di kelas, karena karya sastra tidak hanya mengajarkan tentang materi tetapi sebagai perjalanan budaya.

Dari perkembangan sastra yang terjadi saat ini, saya merasa bahwa karya sastra yang dikembangkan sesuai perkembangan zaman. Perkembangan sastra juga dapat meningkatkan kreativitas dan meningkatkan produk karya sastra.

Namun, literasi sastra saat ini, menghadapi berbagai tantangan, salah satunya yaitu kurangnya media dan minat membaca siswa.

Melalui pemahaman yang mendalam terhadap sejarah sastra, saya menyadari bahwa kualitas karya sastra bukan hanya dapat dilihat dan dinikmati masyarakat tetapi karya sastra tersebut, juga mengandung struktur unsur kebahasaan, tema, dan relevansi sosialnya.

Perkuliahan satu semester ini, saya mendapatkan ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat dan berguna tentang periodisasi, karya sastra, dan sejarah bangsa melalui karya-karya yang sudah ada.

Setelah mempelajari materi yang ada, saya sangat yakin bahwa karya sastra merupakan cerminan dari ideologi, dinamika sosial, dan jati diri bangsa.

Saya berharap ke depannya dapat mengembangkan kemampuan untuk menganalisis karya sastra sehingga bisa mengintegrasikan sejarah sastra dalam pembelajaran yang kreatif dan relevan dengan konteks yang nyata.

ditulis oleh: Salwa Azzahro Khoiriyah

Trending
Berita terkait

Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini