Acara yang dimulai pukul 14.00 WIB ini mengusung tema “Cancut Taliwondo”, dan sukses menyedot perhatian ribuan penonton berkat pertunjukan yang sarat kreativitas dan semangat kebersamaan.
Karnaval ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, pemuda, hingga orang dewasa. Mereka tampil mengenakan beragam kostum budaya yang unik dan menampilkan atraksi menarik sepanjang rute sejauh tiga kilometer. Meskipun sempat diguyur hujan, semangat para peserta tidak luntur sedikit pun.
Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah kehadiran Kepala Desa Lojejer, Mohammad Sholeh, dan istrinya, yang turut berpartisipasi mengenakan busana ala raja dan ratu Jawa lengkap dengan pasukan berkuda. Kehadiran mereka menambah semarak dan keunikan karnaval tahun ini.
Dalam keterangannya, Mohammad Sholeh mengungkapkan bahwa tema “Cancut Taliwondo” dipilih karena sarat makna kebersamaan dan gotong royong dalam melestarikan budaya lokal.
“Tema ini kita angkat untuk membumikan budaya Nusantara. Dalam bahasa Jawa, kita diajarkan untuk nguri-uri budoyo, atau melestarikan budaya. Dengan Cancut Taliwondo, seluruh elemen masyarakat diajak bergotong royong menjaga warisan budaya, sekaligus memperingati HUT ke-80 RI. Alhamdulillah, masyarakat sangat mendukung sehingga acara ini berjalan lancar,” jelasnya.
Salah satu warga, Sonik, mengaku terkesan dengan penyelenggaraan karnaval yang dinilainya sangat kreatif dan melibatkan banyak pihak.
“Acaranya keren dan kompak. Semua terlibat, dari anak-anak sampai orang tua. Salut untuk warga Lojejer yang bisa menyajikan pertunjukan semeriah ini,” ujar Sonik.
Selain sebagai ajang silaturahmi dan pelestarian budaya, karnaval ini juga memberi dampak positif bagi perekonomian lokal. Sejumlah pelaku UMKM turut meramaikan acara, membuka peluang usaha serta meningkatkan perputaran ekonomi di tingkat desa.











