Warganets.id, Bondowoso – Dalam upaya memperkuat tata kelola perusahaan yang transparan dan akuntabel, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bondowoso melaksanakan pendampingan intensif kepada tim Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) dalam rangkaian kegiatan verifikasi, identifikasi, serta pengambilan sampel aset biologis.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (13/01) ini menyasar sejumlah unit pengelolaan strategis di wilayah kerja KPH Bondowoso.
Penilaian aset ini difokuskan pada beberapa titik krusial, di antaranya Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Panarukan, tepatnya di RPH Bungatan Petak 34L yang merupakan lokasi Rencana Tebangan A2 Jati. Selain itu, verifikasi juga dilakukan di BKPH Prajekan, RPH Bayeman Petak 29B-1, yang juga menjadi area rencana tebangan jati.
Tak hanya terbatas pada kekayaan hayati, tim gabungan juga melakukan inspeksi mendalam terhadap sarana dan prasarana (Sarpra) milik perusahaan. Pemeriksaan fisik dan fungsional dilakukan terhadap bangunan Kantor KPH Bondowoso, rumah dinas Administratur, hingga hunian dinas Asper dan KRPH.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa seluruh aset tetap perusahaan memiliki pencatatan nilai ekonomis yang akurat.
Pengecekan kondisi fisik ini sangat penting guna memastikan kelayakan fungsi aset dalam mendukung operasional perusahaan serta memenuhi prinsip pertanggungjawaban administratif.
Kegiatan assessment dan valuation ini bukan sekadar pendataan rutin, melainkan proses ilmiah yang mengacu pada standar global. Penilaian aset biologis, yang meliputi tegakan tanaman kehutanan dan agroforestri, dilakukan dengan berpedoman pada International Financial Reporting Standards (IFRS) – IAS 41 Agriculture.
Secara nasional, proses ini juga mengintegrasikan Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait inventarisasi tegakan dan pengukuran biomassa. Parameter yang diukur mencakup volume tegakan, laju pertumbuhan, umur tanaman, kesehatan pohon, hingga estimasi biomassa.
Penerapan standar ketat ini bertujuan untuk menghasilkan laporan keuangan yang transparan dan mendukung penerapan Good Corporate Governance (GCG).
Tim KJPP yang dipimpin oleh Agi Nanda Putra (PIC) bersama para tenaga ahli kehutanan seperti Riki Hardi Saputra, Mu’adz Ubaidillah, Dian Dwi Anggraeni, dan Futri Restiana Zahra, menerapkan metode direct observation.
Mereka melakukan pengambilan sampel terukur, pengukuran diameter dan tinggi pohon, serta analisis kerapatan tegakan sesuai dengan standar forestry valuation.
Kegiatan ini turut didampingi oleh Departemen Perencanaan Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, yang dihadiri oleh KSS Perencanaan Syahdan Nanang Pribadi, Wakil Kepala Perencanaan Hutan Wilayah (PHW) V Jember Wariman, serta KSS Wilayah V Dino Ramadhan.
Dari internal KPH Bondowoso, Administratur beserta jajaran manajemen kunci juga hadir mengawal jalannya verifikasi.
Administratur KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, menegaskan bahwa verifikasi ini merupakan agenda strategis. “Pendampingan ini bertujuan agar proses verifikasi oleh KJPP berjalan lancar, menghasilkan data yang valid, memenuhi standar IFRS dan SNI, serta dapat dipertanggungjawabkan secara profesional,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Kepala SPH V Jember, Wariman, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah instrumen penting dalam menyelaraskan data perencanaan dengan fakta di lapangan.
Menurutnya, hasil verifikasi akan menjadi dasar ilmiah dalam penguatan perencanaan sumber daya hutan yang mencakup aspek ekologis, ekonomi, dan administratif.
Dari sisi penilai, Agi Nanda Putra selaku PIC KJPP mengakui bahwa keterlibatan aktif tim Perhutani sangat membantu validitas data. “Pendampingan ini memperkuat akurasi data lapangan dan memastikan seluruh proses penilaian berjalan objektif berdasarkan metodologi ilmiah,” ungkapnya.
Melalui kegiatan verifikasi dan penilaian aset ini, Perhutani KPH Bondowoso optimis bahwa pengelolaan aset biologis maupun Sarpra akan semakin optimal. Langkah ini menjadi fondasi penting bagi perusahaan untuk mencapai Sustainable Forest Management (pengelolaan hutan berkelanjutan).
Dengan pencatatan aset yang akurat dan akuntabel, Perhutani tidak hanya meningkatkan kinerja finansialnya, tetapi juga memastikan keberlanjutan fungsi ekologis hutan bagi masa depan.











